
Ketika mendengar orang lain harus antri bertahun-tahun buat naik haji dan urusan ribet banget, saya bersyukur sekali. Soalnya, dua kali naik haji, ngurusnya gampang. Dan nggak harus mendaftar jauh-jauh hari sebelumnya.
Yang pertama tahun 2003, mendaftar bulan April di Palembang, Januari 2004 udah berangkat. Lalu tahun 2007 mendaftar bulan Januari di Bengkulu, November tahun yang sama sudah berangkat.
Rahasianya? Tentu saja pertolongan Allah. Kata orang yang lebih tahu, saat Allah sudah memberi kesempatan kita untuk menunaikan ibadah haji, maka apapun tidak akan bisa menghalangi.
Niat naik haji sejak tahun 2001
Tiba-tiba saja ada keinginan keras untuk naik haji. Mungkin karena waktu itu keuangan sudah mulai membaik, jadi sudah kelihatan dari mana sumber dananya.
Selain mulai menabung, saya juga cerita sama-sama orang-orang dekat kalau saya mau naik haji. Tujuannya biar tambah semangat dan malu kalo gak jadi. Soalnya sudah cerita-cerita
Selama proses menabung, saya pernah mimpi berada di sebuah ruangan tua. Saya lalu naik tangga kecil dan berlumut. Tidak terlalu susah. Baru beberapa anak tangga, saya sampai di atas. Yang saya lihat adalah
Allah Maha Kaya dan Maha pemurah. Rezeki saya terus bertambah. Maka tahun 2003 tabungan lebih dari cukup. Saya sudah punya tiga rumah, punya tanah. Dan saya pun bisa berangkat haji. Tapi sebelum berangkat, ada godaan juga. Tiba-tiba ada tawaran investasi menarik. Bisnis santan kelapa.
Tapi adik saya, satu-satunya, Zul, bilang kalau dana buat naik haji tidak boleh digunakan untuk hal lain. Kalau sudah diniatkan untuk naik haji, harus benar-benar digunakan untuk haji. Pernah ada orang kampung kami, toke beras, yang sudah berencana naik haji. Lalu dana naiknya haji digunakan untuk membuat penggilingan padi. Alhasil penggilingan padinya kebakaran. Wah ngeri juga.
Akhirnya saya menjual salah satu rumah BTN type 21 di
Saya mendaftar, langsung dapat nomor porsi. Dan bisa langsung musim haji tahun itu juga. Padahal mendaftar bulan April, Juli sudah harus pelunasan.
Mendaftar tahun 2007 juga mendadak. Belum ada niat sich. Karena jatah berangkat menurut peraturan maksimal setiap
Saya cepat-cepat mencari informasi. Kalau bisa berangkat tahun 2007, alangkah senangnya Ni Am. Kesedihan ditinggal suami sedikit terobati. Buktinya Ni Am memang sangat bahagia bisa berangkat haji lebih cepat.
Saya tanya ke Departeman Agama Tanah Datar, kabupaten di mana Uni Am tinggal -tempat kelahiran saya, dan dulu ayah saya juga bekerja di Depag Tanah Datar. Yang ada 2008. Saya cek ke Jambi, sampai 2010 penuh. Cek di Palembang, sama saja. Orang Depag Tanah Datar menyarankan untuk cari porsi ke Bengkulu. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya, menjelang pelunasan masih ada yang kosong.
Saya pun berangkat ke Bengkulu, bulan Januari. Karena sudah empat tahun lalu, saya lupa syarat-syarat pengurusannya. Ternyata perlu KTP setempat, dan pas foto yang khusus.
Untung saya lama tinggal di Bengkulu. Ibu kos saya waktu di Bengkulu kerja di Kotamadya. Pernah ngurusin KTP, seminggu baru kelar. Ya coba saja. Buat KTP dulu. Bulan depan datang lagi,
Minggu malam saya antar data KTP. Foto Uni Am saya cetak dari foto yang ada di HP Nokia 6600. Foto saya juga. Eh surprise...Senin pagi ditelp, KTP sudah selesai. Rahasianya? Hubungan baik dan duit... he hehehe.
Kadung udah selesai, ya sekalian aja diurus. Padahal tadinya udah sempat berfikir mau ngurus bulan depan saja.
Tinggal lagi pas foto khusus untuk paspor dan lain-lainnya. Itu ternyata perlu pas foto khusus yang ada contohnya di bagian pengurusan haji di Depag. Foto close up dari dagu dan kepala. Dagu nongol sedikit saja.
Tapi ini juga tidak masalah. Walau di kampung, kami juga memasang internet. Kamera digital pun ada. Segera foto Ni Am dibuat Miko, suami Zul. Ipar saya ini memang melek teknologi dan bisa kerja cepat. Foto haji saya yang tahun 2003 pun kebetulan ada dikomputer di kampung. Dulu disiapkan buat foto buku nikah -pernikahannya batal :P~. Semua lalu dikirim ke email saya dt_simarajo@yahoo.com
Hitungan menit semua sampai. Langsung saya kopi ke CD, cetak, dan langsung dech beres. Dapat nomor porsi untuk berangkat tahun 2007.
Sebenarnya ada kendala juga soal foto. Kata orang Depag, kurang ke bawah. Ujung-ujungnya mereka minta kita berfoto sama tukang foto amatir yang pasang muka dan meja di pintu masuk kantor mereka. Saya bilang, karena ini mendesak, foto ini buat SPPH aja dulu. Buat paspor baru difoto ulang. Lagi-lagi dengan uang dengan sedikit kesopanan berbicara, semua selesai.
Oya, soal usaha santan saya itu, memang benar-benar terbakar. Baru dua bulan kami pindah ke tempat baru, karena sewa tempat yang lama tinggi sekali. Cuma untung mesin dan aset-aset lain berhasil diselamatkan orang yang kami percayai buat menjalankan usaha itu.
Ya gak rugi-rugi amatlah. Paling rugi sewa tempat. Karena sewa baru jalan dua bulan dan harus cari tempat baru.
Nyaris waiting list
Porsi haji untuk

Tidak ada komentar:
Posting Komentar